Anda di halaman 1dari 17

RANGKUMAN BUKU COMMUNICATOION FOR THE CLASSROOM TEACHER

(9th EDITION): PEARSON NEW INTERNATIONAL NEW EDITION CHAPTER 3


DAN 4 (LISTENING AND LANGUAGE)

Dosen Pengampu:

Dr. Andre Noevi Rahmanto, S.Sos., M.Si

Oleh:

Dini Wahyu Mulyasari (S812102002)

PROGRAM STUDI S2 TEKNOLOGI PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2021
CHAPTER 3: LISTENING

A. Pentingnya Mendengarkan
1. Mendengarkan merupakan ketrampilan bertahan hidup, hal ini dikarenakan 70%
dalam waktu bangun suatu manusia dihabiskan untuk berkomunikasi dan 42-57%
nya digunakan untuk mendengar.
2. Di dalam kelas mendengarkan merupakan saluran utama pembelajaran
3. Mendengarkan merupakan cara yang sangat penting untuk mengkomunikasikan
rasa hormat.

Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa mendengarkan merupakan komponen kunci


dalam proses belajar mengajar.

Contoh dan alaisis dalam pembelajaran: meskipun salah satu tujuan pelaksanaan
pembelajaran saintifik dalam kurikulum 2013 menghindari pembelajaran verbalisme akan
tetapi seluruh intruksi pembelajaran diberikan oleh guru. Dengan demikian, siswa harus
menyimak dengan seksama intruksi guru demi terlaksananya proses pembelajaran.

B. Definisi Mendengarkan
Mendengarkan merupakan suatu proses menangkap informasi dan tidak hanya
sekedar mendengar akan tetapi mendengar harus melalui enam proses menurut Judi Brownell
dalam model HURIER, yakni:
1. Mendengar, melibatkan proses fisiologis untuk menerima suara secara akurat,
kita harus memusatkan perhatian dan konsentrasi kita untuk memulai proses
mendengarkan.
2. Memahami, merupakan melibatkan proses berpikir dalam diri kita dan
membutuhkan refleksi. Kita mulai memikirkan suara-suara di sekitar kita dan apa
artinya.
3. Mengingat, menurut Brownell, “mengingat sangat penting jika Anda berniat
menerapkan apa yang telah Anda dengar dalam situasi masa depan, serta
mengingat membutuhkan upaya sadar dari pihak pendengar.
4. Menafsirkan, melibatkan kemampuan untuk melihat situasi dari sudut pandang
orang lain.
5. Mengevaluasi, proses mengevaluasi pesan biasanya melalui pengalaman, sikap,
dan nilai masa lalu yang telah dialami.
6. Menanggapi, tanggapan setelah seseorang menerima pesan atau informasi.
Contoh dan alaisis dalam pembelajaran: berikut ini langkah-langkah pendekatan saintifik
dalam proses pembelajaran meliputi mengamati (observing), menanya (questioning),
mencoba (experimenting), mengolah data atau informasi dilanjutkan dengan menganalisis,
menalar (associating), dan menyimpulkan, menyajikan data atau informasi
(mengomunikasikan), dan menciptakan serta membentuk jaringan (networking). Untuk dapat
melaksankan seluruh langkah-langkah pembelajaran serta tercapainya tujuan pembelajaran,
maka siswa harus melalui enam proses mendengarkan model HURIER.

C. Tipe-tipe Mendengarkan
1. Informatif, mendengarkan dengan tujuan untuk mendapatkan pengetahuan atau
menyelesaikan tugas tertentu atau memahami pesan dengan alasan tertentu.
Contoh dan analisis dalam pembelajaran: pembelajaran bahasa Indonesia dengan
tema “menggali informasi dari orang lain melalui wawancara”. Tujuan pembelajaran
ini ialah agar siswa mendapat informasi dari subjek yang diwawancara.
2. Apresiatif, mendengarkan dengan tujuan kesenangan (hanya ingin mendapatkan
kesan indrawi dari nada, suasana hati, atau gaya orang lain).
3. Empatik, mendengarkan perasaan orang lain atau kapasitas seseorang untuk
menepatkan dirinya pada posisi orang lain sehingga mampu melihat sesuatu dari
sudut pandang orang lain. Pendengar yang empatik berusaha untuk memahami secara
menyeluruh dan akurat orang yang berkomunikasi.
Terdapat dua Langkah dalam mendengarkan empatik yaitu:
a. Memprediksi secara akurat motif dan sikap orang lain yaitu kesadaran tentang
seperti apa orang lain itu dan apa yang secara realistis dapat diharapkan darinya.
b. Berkomunikasi dengan cara yang bermanfaat bagi orang lain. Berikut ini beberapa
pedoman guru dalam mengkomunikasikan empati kepada siswa:
1) Bersedia untuk terlibat dengan siswa
2) Komunikasikan hal yang positif kepada siswa
3) Komunikasikan pada suasana yang mendukung
4) Mendengarkan komunikasi verbal dan nonverbal siswa
5) Memperjelas ekspresi yang mencerminkan isi hati dan perasaan secara akurat
6) Menjadi asli dan kongruen

Contoh dan analisis dalam pembelajaran: ketika guru BK atau guru kelas
menganalisis dan mewawancarai siswa terkait permasalahan pembelajaran yang
sedang dihadapinya. Untuk itu guru perlu menempatkan diri seolah-olah menjadi
peserta didik, sehingga mampu menganalisis masalah pembelajaran yang dialami
peserta didik.

4. Kritis, Selain itu, tugas guru dalam pembelajaran adalah menjadi pendengar yang
kritis, mendengarkan secara kritis melibatkan membuat penilaian tentang informasi
yang diterima dengan melibatkan manfaat, makna, kejelasan, kevalidan, dari
informasi tersebut dan memberikan umpan balik terhadap siswa.

Tujuan umpan balik adalah agar seorang guru memberikan rencana perbaikan kepada
siswa. Berikut ini empat jenis komentar guru dalam memberikan umpan balik kepada
siswa:

1) Positive nondescriptive comments, mengatakan bahwa siswa melakukan


pekerjaan dengan baik tetapi tidak menjelaskan atau merinci bagaimana tugas
itu diselesaikan. Contoh: Kontak mata yang baik, Referensi yang bagus,
Dukungan luar biasa, Tanda tambah (+).
2) Positive descriptive comments, komentar yang mengatakan bahwa siswa
melakukan pekerjaan dengan baik, dan secara khusus menggambarkan atau
merinci apa yang disukai tentang bagaimana siswa menyelesaikan tugas
mereka. Contoh: kerja bagus karena diagram dan peta konsep mu menarik dan
mudah dipahami.
3) Negative comments, mengkritik kinerja tanpa memberikan saran perbaikan.
Contoh: memberikan tanda minus (-), kontak mata yang buruk
(menyeramkan).
4) Constructive comments, mengakui perlunya perbaikan dan memberikan
arahan atau detail spesifik tentang cara meningkatkan. Contoh: cobalah
besarkan ukuran tulisanmu karena terlalu kecil menyebabkan sulit dilihat
keindahan dan materinya dari jarak jauh.

Contoh dan analisis dalam pembelajaran: proses reinforcement guru pada peserta
didik. Guru akan menganalisis evaluasi hari belajar siswa kemudian memberikan
umpan balik kepada siswa dan menanyakan kepada siswa hal-hal yang belum
dipahaminya.
D. Hambatan Dalam Mendengarkan Efektif
Empat kategori utama yang menyebabkan proses menyimak tidak efektif yaitu:
1. Gangguan factual, terjadi karena kita mendengarkan fakta daripada ide dan perasaan
utama di balik pesan. Akibatnya, kita gagal mengintegrasikan apa yang kita dengar
menjadi satu kesatuan, atau kita kehilangan "gambaran besar".
Contoh dan analisis dalam pembelajaran: guru menjelaskan definisi dan konsep
tentang pembagian wilayah waktu di Indonesia, akan tetapi siswa tidak mengetahui
alasan dan asal usul dari pembagian wilayah waktu di Indonesia, sehingga siswa
hanya memahami karena menghafal bagian wilayah. Guru sebaiknya mengejak siswa
untuk bereksplorsi atau mengadakan pembelajaran yang bersifat analisis dalam proses
pembagianwilayah waktu.
2. Gangguan semantic, terjadi ketika orang lain menggunakan terminologi yang tidak
dikenal atau ketika kita bereaksi secara emosional terhadap kata atau frasa.
Contoh dan analisis dalam pembelajaran: dalam pembelajaran ipa dan matematika
banyak bahasa sulit (ilmiah) yang tidak digunakan, seperti kecepatan, jarak dan waktu
yang tetap ditulis demikian.
3. Gangguan mental, gangguan mental dapat terjadi disebabkan oleh faktor
intrapersonal, diantaranya:
a. ketika seseorang fokus pada diri mereka sendiri. Karena mungkin sedang
merumuskan apa yang akan dikatakan ketika giliran mereka untuk berbicara.
b. ketika seseorang tersebut fokus pada orang lain bukan kepada presenter.

Contoh dan analisis dalam pembelajaran: siswa sering berbicara dengan teman lain
dan tidak fokus memperhatikan guru yang memberikan instruksi pembelajaran. Maka
yang harus guru lakukan ialah sering melakukan variasi pembelajaran agar siswa tetap
fokus pada pembelajaran.

4. Gangguan fisik, Warna ruangan, waktu, pakaian yang tidak nyaman, dan kebisingan
dapat menjadi gangguan fisik yang mengganggu kemampuan seseorang untuk
mendengarkan.
Contoh dan analisis dalam pembelajaran: siswa sekolah dasar merasa bosan dan
mengantuk karena suasana kelas yang monoton.
E. Meningkatkan Ketrampilan Mendengar
1. Menyingkirkan gangguan fisik ketika mendengarkan (set-up ruangan dan lingkungan
belajar sesuai kebutuhan dan kenyamanan).
2. Fokus pada gagasan utama pembicara.
3. Dengarkan maksud, serta konten, dari pesan tersebut.
4. Ingat pepatah bahwa makna ada pada orang, bukan pada kata-kata, maka mintalah
klarifikasi kepada pembicara.
5. Berkonsentrasi pada orang lain yang bertindak sebagai komunikator dan sebagai
manusia.

Contoh dan analisis dalam pembelajaran: guru hendaknya membantu siswa dalam
meningkatkan kemampuan mendengar/menyimaknya dengan memberikan
pembelajaran melalui komunikasi yang interaktif dan efektif dengan memperhatikan
berbagai hal di atas.

F. Strategi Mendengarkan Aktif


Mendengarkan secara aktif adalah bahwa pendengar harus terlibat dalam transaksi
komunikasi. Dengan kata lain, mendengarkan tidak pasif; alih-alih, itu sama aktif dan
berperilaku seperti berbicara. Dan, tentu saja, indikator utama dari mendengarkan secara aktif
adalah merespons secara aktif. Maka proses mendengarkan tidak hanya sampai pada respon
verbal dan nonverbal akan tetapi tanggapan yang diberikan pendengar kepada infroman.
Berikut strategi mendengarkan secara aktif:
1. Paraphrase, adalah pernyataan kembali isi dan komponen perasaan pesan orang
lain, namun, itu bukan sekadar menirukan kata-kata orang lain karena
menggunakan bahasa dan pemahaman sendiri. Parafrase harus digunakan untuk
membantu Anda menghindari kebingungan dan kesalahpahaman.
Contoh dan analisis dalam pembelajaran: siswa diminta menulis dan
mengkomunikasikan Kembali sesuai bahasa mereka tentang pembelajaran dan
informasi yang didapat dari kegiatan wawancara bersama teman sejawat.
2. Perception Checking, Tujuan dasar dari pemeriksaan persepsi adalah untuk
memperjelas persepsi kita tentang pikiran, perasaan, atau niat orang lain. Karena
tidak mungkin berkomunikasi dengan orang lain tanpa membuat beberapa
kesimpulan, penting bagi kita untuk memeriksa kesimpulan tersebut untuk
membuat komunikasi kita seefektif mungkin.
Contoh dan analisis dalam pembelajaran: siswa diminta untuk menyimpulkan
hasil kegitan wawancara bersama teman sejawat. Peran guru hendaknya menjadi
mediator komunikasi antar siswa.
3. Ask Question, Kapan pun seseorang tidak yakin bahwa ia telah memahami konten
atau pesan hubungan orang lain, maka seseorang tersebut perlu mengajukan
pertanyaan. Hasil lain dari mengajukan pertanyaan adalah bahwa hal itu
menunjukkan kepada mitra percakapan bahwa seseorang tersebut tertarik pada
ide, pengalaman, kontribusi mereka, dan sebagainya.
Contoh dan analisis dalam pembelajaran: guru memberikan dorongan dan
kesempatan bertanya kepada siswa tentang materi yang belum dipahami
4. Say More, “Katakan lebih banyak,” mendorong mitra percakapan untuk terus
berbicara. Ketika ide tampak tidak jelas atau seseorang tidak yakin bahwa ia
benar-benar memahami apa yang dimaksud komunikator, mintalah orang itu
untuk “Berbicara lebih banyak” atau “Terus bicara.” Atau menjelaskan ulang.
Contoh dan analisis dalam pembelajaran: guru menjelaskan kembali tentang
konsep yang belum dipahami oleh siswa.
5. Beware of Cultural Differences, latar belakang budaya dapat mempengaruhi
perilaku mendengarkan. Menurut riset, pendengar antarbudaya yang paling efektif
memiliki toleransi yang tinggi terhadap ambiguitas atau mereka dapat melihat
banyak sudut pandang dan mereka tetap berpikiran terbuka ketika dihadapkan
dengan informasi yang bertentangan dengan keyakinan mereka sebelumnya.
Beberapa strategi untuk mendengarkan secara lintas budaya, diantaranya:
a. Dengarkan nilai-nilai budaya/individu sendiri;
b. Saat diperkenalkan dengan seseorang dari budaya lain dengarkan nilai
budaya/individu mereka;
c. memperluas pengetahuan diri sendiri tentang norma-norma budaya orang lain;
d. mendengarkan dengan mata terbuka dan pikiran terbuka.
e. Pendengar antar budaya yang kompeten mengenali perbedaan dalam sistem
nonverbal dan tidak membuat asumsi tentang apa arti berbagai perilaku
nonverbal.

Contoh dan analisis dalam pembelajaran: dalam proses pembelajaran, guru


hendaknya menyampaikan pembelajaran secara netral dan tidak berusaha
menjatuhkan dan merusak kepercayaan diri siswa.
CHAPTER 4: LANGUAGE

A. Pentingnya Bahasa dan Karakteristiknya


Komunikasi di dalam kelas dipengaruhi oleh bahasa, dan terdapat karakteristik bahasa
yang akan membantu seorang guru dalam memahami implikasi bahasa di dalam kelas.
Bahasa dikatakan penting karena beberapa hal berikut:
1. Bahasa adalah symbol. Artinya, kata-kata mewakili atau melambangkan sesuatu.
2. Bahasa bersifat arbiter. Artinya kata-kata tidak memiliki arti dalam dan dari dirinya
sendiri. Mereka mendapatkan maknanya dan konteksnya dari orang-orang yang
menggunakannya.
3. Bahasa menciptakan realitas sosial

Bahasa yang digunakan dalam konteks kelas dapat mempengaruhi pembelajaran.


Secara umum, bahasa positif lebih efektif dalam hal pembelajaran dan menciptakan iklim
kelas yang mendukung daripada bahasa negatif. Bahasa melibatkan kata-kata kita (pesan
verbal) dan perilaku (pesan nonverbal).

Bahasa Positif Bahasa Negatif


Tutup pintunya dengan baik Jangan banting pintunya
Coba jawab dan selesaikan tugasmu Jangan mencontek hasil kerja temanmu
dengan mandiri
Ayo.. tenang ya anak-anak karena kita Jangan berisik
sedang belajar
Begini cara meraut pensil dengan benar Bukan begitu cara meraut pensil
(dengan didemonstrasikan)
Jika akan menjawab, acungkan tangan Jangan menyela pembicaraan orang lain

B. Komunikasi Verbal
Komunikasi verbal dalam konteks pendidikan berkaitan dengan penggunaan kalimat
atau kata-kata oleh guru untuk berkomunikasi dengan siswa dalam pembelajaran.
Mengingat pentingnya bahasa, maka guru yang efektif akan bekerja untuk memastikan
bahwa komunikasi yang mereka bangun dengan siswa menjadi jelas, tepat dan menarik,
maka beberapa hal berikut yang perlu diperhatikan guru saat melaksanakan komunikasi
verbal dengan siswa:
1. Kejelasan Guru Dalam Mengkomunikasikan Pembelajaran
Kejelasan adalah kemampuan guru untuk menyajikan pengetahuan dengan
cara yang dipahami siswa. Kejelasan dapat dilihat sebagai elemen penghubung
antara konten dan pedagogi karena mewakili kapasitas instruktur untuk
mentransfer dimensi kognitif pengajaran ke dalam perilaku instruksional yang
terlihat, maka dalam pembelajaran, seorang guru hendaknya perlu menggunakan
kata-kata yang spesifik dan familiar kepada siswa.
Kejelasan dalam pembelajaran tidak hanya mencakup kejelasan isi tetapi juga
kejelasan proses. Kejelasan proses mencakup informasi yang berhubungan dengan
berbagai harapan kelas, seperti standar kinerja, umpan balik tentang seberapa baik
siswa melakukannya, penjelasan prosedur evaluasi, relevansi praktis, dan tugas,
berikut ini contoh tindakan guru dalam memperjelas proses dan isi pembelajaran:
a. Merencanakan dan mempersiapkan desain pembelajaran.
b. Memberikan informasi kepada siswa tentang materi yang akan dipelajari.
c. Memberikan ilustrasi dan contoh kepada siswa.
d. Mendemonstrasikan atau praktik langsung
e. Menggunakan berbagai bahan ajar.
f. Mengajarkan hal-hal yang terkait, langkah demi langkah.
g. Mengulangi dan menekankan pada poin-poin sulit.
h. Menyesuasikan pengajaran dengan siswa dan materi.
i. Mendesain pembelajaran yang mengarah pada pembelajaran bermakna.
j. Memberikan latihan.
k. Memberikan standar dan aturan untuk kinerja yang memuaskan.
l. Memberikan umpan balik atau pengetahuan kepada siswa tentang seberapa
baik yang mereka lakukan.
m. Menggunakan contoh konsep yang konkrit dan aplikasinya dalam dunia
nyata
n. Mengulangi ide-ide sulit.

Kejelasan juga dapat meningkatkan hubungan di dalam kelas. Kejelasan guru


adalah variabel komunikasi yang dapat mempengaruhi iklim relasional kelas.
Guru juga harus memiliki laporan kejelasan dari pembelajaran sehingga
membantu dalam proses evaluasi proses pembelajaran.
Contoh dan analisis dalam pembelajaran: siswa sering tidak memahami materi
pembelajaran yang disampaikan oleh guru karena instruksi yang diberikan tidak
dapat diterima dengan baik oleh siswa, seperti kejadian berikut “siswa salah dalam
mengerjakan atau bahkan tidak mengerjakan tugas yang dikatakan guru”.

2. Kesesuaian Guru Dalam Mengkomunikasikan Pembelajaran


Seorang guru yang efektif akan mempertimbangkan implikasi pilihan kata
terhadap cara siswa memahami pelajaran. Guru harus berusaha untuk menggunakan
bahasa yang inklusif. Yang dimaksud dengan bahasa inklusif adalah penggunaan
bahasa dengan mempertimbangkan dan menghormati semua jenis orang tanpa
memandang jenis kelamin, ras, orientasi seksual, dan sebagainya.

Contoh dan analisis dalam pembelajaran: guru menghormati setiap perbedaan


yang dimiliki oleh siswa, “dalam penyampaian pembelajaran toleransi, tidak
merendahkan agama atau suku lain”.

3. Penyampaian Secara Verbal


Seorang guru dalam menyapaikan pembelajaran harus dapat menyapaikan
informasi dengan baik serta dipercaya oleh siswa, maka untuk mencapai tujuan
tersebut seorang guru harus memiliki artikulasi dan pengucapan yang jelas serta
perlu memvariasikan volume, kecepatan, dan nada komunikasi yang digunakan.
a. Artikulasi adalah pembentukan kata yang jelas.
Contoh dan analisis dalam pembelajaran: bagaiamana guru
mengucapakan kata “PAGI dan PADI”.
b. Pengucapan adalah bagaimana sebuah kata diucapkan dan ditekankan.
c. Kenyaringan atau kelembutan yang Anda gunakan untuk berbicara harus
bervariasi agar terdengar seperti percakapan. Volume juga harus sesuai
dengan ukuran ruangan dan penonton.
Contoh dan analisis dalam pembelajaran: pada saat menyampaikan
informasi yang ditujukan keseluruh siswa, maka suara yang dikeluarkan
guru hendaknya dapat didengar di seluruh kelas dan ketika menyampaikan
informasi personal hendaknya lebih lembut.
d. Memvariasikan kecepatan bicara, dan penggunaan jeda dalam sebuah
pernyataan.
Contoh dan analisis dalam pembelajaran: kecepatan bicara guru di
kelas satu berbeda dengan kecepatan bicara dengan siswa kelas 5.
e. Pitch adalah tinggi rendahnya suara seseorang.
C. Komunikasi NonVerbal
Komunikasi nonverbal penting bagi guru di kelas. Perilaku nonverbal seorang guru
merupakan faktor penting dalam sikap siswa terhadap sekolah. Ketika guru dilatih dalam
penggunaan komunikasi nonverbal yang efektif di kelas, hubungan siswa-guru meningkat.
1. Fungsi Komunikasi Nonverbal
a. Presentasi Diri, Citra diri seorang guru akan memengaruhi perilaku
nonverbalnya di kelas.
Contoh dan analisis dalam pembelajaran: guru yang terkesan galak
biasanya menampakkan raut wajah yang tegas.
b. Mengidentifikasi Aturan dan Tujuan Pembelajaran,
Sebagian besar aturan dikomunikasikan secara nonverbal. Tatapan
yang berkonotasi tidak setuju atau jari yang bergoyang memberi tahu anda
bahwa perilaku anda tidak pantas.
Demikian pula, harapan dikomunikasikan, sebagian besar secara
nonverbal. Jarang seorang guru berkata kepada Anda, "Saya berharap Anda
melakukannya dengan sangat baik di kelas ini." Namun, harapan guru untuk
prestasi siswa paling sering dikomunikasikan oleh isyarat nonverbal seperti
kontak mata, pengaturan tempat duduk, orientasi tubuh, dan ekspresi wajah.
c. Umpan balik dan penguatan
Ketika seorang guru gagal memberi tahu siswa bahwa kerja yang
dilakukan bagus "Kerja bagus,", siswa dapat menangkap pesan tersebut
melalui ekspresi wajah dan gerak tubuh guru. Senyum, anggukan kepala, atau
tepukan di bahu semuanya dapat mengomunikasikan persetujuan. Demikian
pula, cemberut, tatapan bingung, atau gelengan kepala dapat memberi tahu
kita bahwa kita tidak "di jalur yang benar."
Penguatan memiliki efek yang kuat pada persepsi siswa tentang diri,
sekolah, dan guru. Senyum, cemberut, kontak mata, dan sentuhan, semuanya
memberi siswa pesan tentang betapa berharganya mereka.
d. Menyukai dan Mempengaruhi
Kedekatan nonverbal dirasakan secara positif oleh siswa dan terkait
dengan banyak hasil siswa. Perilaku kedekatan nonverbal seperti tersenyum,
menghilangkan hambatan fisik, dan kontak mata sangat membantu untuk
mengkomunikasikan keinginan seorang guru kepada siswa dan mempengaruhi
tidak hanya untuk pengajaran, tetapi juga untuk siswa.
e. Peratuan Aliran Percakapan
Karena berperan sebagai fasilitator, seorang guru dapat menentukan
siapa yang berbicara, seberapa sering, berapa lama, dan kapan saatnya
seseorang bebicara. Guru memberi isyarat bahwa giliran siswa untuk berbicara
dengan menurunkan nada, menurunkan gerakan, santai dan sedikit bersandar,
dan mengakhiri frasa vokal dengan melihat langsung ke siswa yang
diharapkan untuk merespons. Guru juga dapat menggunakan isyarat nonverbal
untuk memberi sinyal bahwa ini bukan waktunya untuk berbicara.
f. Kontrol Kelas
Komunikasi nonverbal dapat digunakan baik untuk mendorong
perilaku siswa yang diinginkan dan mengontrol perilaku siswa yang tidak
diinginkan.
2. Kategori Komunikasi Nonverbal
a. Proxemics, adalah studi tentang bagaimana orang menggunakan ruang.
Sebagai guru, maka perlu berhati-hati dalam menyerang ruang pribadi siswa.
b. Penataan Ruang, Penataan ruang (suatu bentuk teritorial) mempengaruhi
faktor komunikasi seperti siapa berbicara kepada siapa, kapan, di mana, untuk
berapa lama, dan tentang apa. Berikut beberapa desain tataruang kelas dan
analisis tingkat partisipasi peserta didik:
c. Faktor lingkungan, Perubahan lingkungan kelas dapat menyebabkan
perubahan suasana kelas. Akhirnya, perubahan ini dapat menyebabkan
perubahan prestasi. Berikut beberapa efek positif dari baiknya lingkungan
kelas:
1. Meningkatkan partisipasi belajar siswa
2. Kantor yang estetis menghasilkan peringkat kepercayaan dan otoritas yang
lebih tinggi daripada kantor dengan kualitas estetika rendah.
3. Guru menjadi lebih ramah, lebih lebih bersemangat, lebih santai, lebih
terbuka, dan lebih mampu meninggalkan kesan pada orang lain.
4. Warna, pencahayaan, dan suhu semuanya mempengaruhi iklim kelas.

Contoh dan analisis dalam pembelajaran: kelas tidak dibuat polos, akan
tetapi didekorasi sesuai karakteristik siswa.

d. Kronologis, studi tentang penggunaan waktu oleh orang-orang. Pada


umumnya kronologis dalam pembelajaran membahas tentang
1. Waktu interaksi guru dengan siswa,
2. Waktu yang digunakan untuk membahas satu subjek.
3. Waktu yang dihabiskan dengan siswa mengkomunikasikan sikap guru
terhadap mereka.
4. Waktu dapat mempengaruhi siswa dalam beberapa cara lain juga. Siswa
dapat berupa monokronik atau polikronik; yaitu, mereka mungkin bekerja
paling baik ketika satu aktivitas, tugas, atau proyek dijadwalkan pada satu
waktu, atau mereka mungkin dapat terlibat dalam beberapa aktivitas
sekaligus.

Contoh dan analisis dalam pembelajaran: terkadang guru harus


memberikan “ice breaking” pada saat pembelajaran dengan tujuan untuk
meningkatkan fokus pembelajaran.

e. Artefak, gaya tampilan dan cara berpakaian.


Contoh dan analisis dalam pembelajaran: di Indonesia guru berpaikaian
rapi, sopan dan berseragam sesuai dengan ketentuan dan aturan.
f. Kinestetik, studi tentang gerakan tubuh, ekspresi wajah, kontak mata dan
sebagainya. Berikut kategori perilaku kinstetik guru:
1. Emblem, perilaku nonverbal yang memiliki terjemahan verbal langsung.
Misalnya, "Saya tidak tahu" dapat dikomunikasikan secara simbolis
dengan mengangkat bahu dan mengangkat alis.
2. Ilustrator, perilaku nonverbal yang terkait langsung dengan ucapan.
Selama pelajaran geografi, seorang guru mungkin mengilustrasikan di
mana sebuah kota berada dengan menunjuk ke kota itu pada peta.
3. Pengaruh tampilan, ekspresi wajah yang mengomunikasikan keadaan
emosional. Kerutan Anda mungkin mengomunikasikan ketidaksenangan
dengan jawaban siswa. Ekspresi bingung atau ekspresi bosan dapat
mengomunikasikan keadaan emosional tertentu pada salah satu siswa
Anda.
4. Regulator, perilaku nonverbal yang digunakan untuk mengontrol dan
memelihara interaksi verbal. Mengangguk kepala dengan cepat dapat
mengomunikasikan, “Ya, saya mengerti. Lanjutkan dengan bagian
pelajaran berikutnya”.
5. Adaptor, perilaku nonverbal yang dikembangkan pada masa kanak-kanak
sebagai perilaku adaptif untuk memenuhi kebutuhan emosional atau fisik.
Ketika mereka merasa cemas atau bosan, siswa mungkin mengunyah
pensil mereka, menggigit kuku mereka, mengklik pena mereka, atau
mengetuk pensil mereka di atas meja. Semua ini adalah cara untuk
beradaptasi dengan kebosanan atau kecemasan mereka.
g. Kontak Mata, Kontak mata menandakan bahwa jalur komunikasi terbuka dan
bahwa Anda bersedia berkomunikasi dengan orang lain. Selain itu terdapat
beberapa fungsi kontak mata:
1. Digunakan untuk mencari umpan balik atau untuk menyampaikan
informasi tentang hubungan, misalnya, dominasi dan penyerahan atau suka
dan tidak suka.
Contoh dan analisis dalam pembelajaran: guru melihat pemahaman
siswa melalui kontak maka, biasanya siswa yang tidak memahami intruksi
guru matanya terkesan lesu dan mengawang.
2. Kontak mata digunakan untuk mengatur ruang kelas.
3. Meningkatkan pemahaman
4. Mengomunikasikan minat dan perhatian
g. Raut Wajah, Seorang guru dapat menggunakan ekspresi wajah untuk
mengelola interaksi di dalam kelas, seorang guru harus dapat menggunakan
ekspresi wajah dan gerak tubuh siswa untuk menentukan pemahamannya
terhadap materi yang sedang dibahas, dan berkomunikasi dalam kelas.
Contoh dan analisis dalam pembelajaran: guru yang ramah dengan raut
wajah yang teduh dan penyabar akan memberikan kesan terbuka dan mudah
didekati oleh siswa.
h. Sentuhan, Sentuhan dapat mengomunikasikan banyak hal seperti dukungan
emosional, kelembutan, dorongan dan merupakan aspek penting dalam
sebagian besar hubungan manusia. Sebagai guru, kita harus menyadari bahwa
sentuhan di kelas dasar dapat digunakan sebagai sarana yang efektif untuk
mengkomunikasikan kepedulian dan pengertian.
D. Budaya dan Komunikasi Nonverbal
Budaya dan komunikasi nonverbal saling terkait karena pada saat kita mengkaji
komunikasi nonverbal di dalam kelas, penting untuk diingat bahwa hanya sedikit norma
nonverbal yang bersifat universal. Menurut Samovar dan Porter (2009), "banyak tindakan
nonverbal Anda disentuh dan diubah oleh budaya" (hal. 164). Para penulis ini juga
menunjukkan tiga kesejajaran antara budaya dan komunikasi nonverbal: keduanya tidak
terlihat, ada di mana-mana, dan dipelajari.

Contoh dan analisis dalam pembelajaran: sapaan nonverbal sebelum memasuki kelas
dan ucapan terimakasih di Indonesia berbeda dengan negara lain.

E. Meningkatkan Komunikasi Nonverbal


Kategori Nonverbal Love-Roderick dan contoh perilaku guru dalam kelas:
1. Menerima perilaku siswa. Tersenyum, menggelengkan kepala, menepuk
punggung, mengedipkan mata, meletakkan tangan di bahu atau kepala.
2. Memuji perilaku siswa. Tempatkan jari telunjuk dan ibu jari bersama-sama,
bertepuk tangan, mengangkat alis dan tersenyum, mengangguk setuju dan
tersenyum.
3. Menampilkan ide siswa. Menulis komentar di papan tulis, meletakkan pekerjaan
siswa di papan buletin, mengangkat kertas, menyediakan demonstrasi siswa
nonverbal.
4. Menunjukkan minat pada perilaku siswa. Membangun dan mempertahankan
kontak mata.
5. Bergerak untuk memfasilitasi interaksi siswa-siswa. Secara fisik berpindah ke
posisi anggota kelompok, secara fisik menjauh dari kelompok.
6. Memberikan arahan kepada siswa. Menunjuk dengan tangan, melihat ke area
tertentu, menggunakan sinyal yang telah ditentukan (seperti mengangkat tangan
agar siswa berdiri), memperkuat aspek numerik dengan menunjukkan jumlah jari
itu, mengulurkan tangan ke depan dan memberi isyarat dengan tangan, menunjuk
ke siswa untuk jawaban.
7. Menunjukkan otoritas terhadap siswa. Mengernyit, menatap, mengangkat alis,
mengetuk-ngetukkan kaki, menggulung buku di atas meja, menggelengkan kepala
secara negatif, berjalan atau memalingkan muka dari yang menyimpang,
menjentikkan jari.
8. Memfokuskan perhatian siswa pada poin-poin penting. Menggunakan
penunjuk, berjalan ke arah orang atau objek, mengetuk sesuatu, mendorong kepala
ke depan, mendorong lengan ke depan, menggunakan gerakan nonverbal dengan
pernyataan verbal untuk memberikan penekanan.
9. Mendemonstrasikan atau mengilustrasikan. Melakukan keterampilan fisik,
memanipulasi bahan dan media, menggambarkan pernyataan verbal dengan
tindakan nonverbal.
10. Mengabaikan perilaku siswa. Kurangnya respon nonverbal ketika seseorang
biasanya diharapkan. (Ini kadang-kadang tepat, terutama dalam manajemen
kelas).