Anda di halaman 1dari 5

FORM REFLEKSI KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA


_____________________________________________________________________________________
Nama Dokter Muda

: Jondra Widodo

Stase

: Saraf

NIM: 10711142

Identitas Pasien
Nama / Inisial

: Ny. SM

No RM

: 245581

Umur

: 62 tahun

Jenis kelamin

: perempuan

Diagnosis/ kasus :
Pengambilan kasus pada minggu ke:III
Jenis Refleksi: lingkari yang sesuai (minimal pilih 2 aspek, untuk aspek ke-Islaman sifatnya wajib)
a.
b.
c.
d.
e.

Ke-Islaman*
Etika/ moral
Medikolegal
Sosial Ekonomi
Aspek lain

Form uraian
1. Resume kasus yang diambil (yang menceritakan kondisi lengkap pasien/ kasus yang diambil ).
4 jam SMRS pasien tiba-tiba muntah saat mandi, kemudian pasien merasa kedua tangan menjadi lemas,
pasien tidak pingsan (-), kepala terbentur (-). Keluhan lain yang dirasakan saat ini adalah mual (+) dan
nyeri kepala (+). Tidak didapatkan penurunan kesadaran (-), demam (-), kejang (-). Pasien belum berobat
kemanapun dan belum minum obat apapun untuk keluhannya ini.
Riwayat hipertensi (+)
KU : cukup, CM
GCS: E4V5M6
S: pupil isokor, 2mm, reflek pupil +/+
G

Tn

Rf

Tr

Rp

Sensibilitas : dbn
Vegetatif : dbn
Page 1

2. Latar belakang /alasan ketertarikan pemilihan kasus


Pemilihan kasus dalam refleksi kasus ini merupakan salah satu pasien yang di anamesis di poli
syaraf RSUD Kebumen. Pasien ini merupakan pasien dengan epilepsy yang berusia 52 tahun. Pasien
merupakan seorang kepela keluarga yang bekerja sebagai PNS di dinas pendidikan kebumen yang
kesehariannya tentu saja menuntut beliau untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan sehari-hari
keluarganya. Saat ini yang pastinya memb utuhkan kekuatan dari seluruh anggota gerak baik tangan
maupun kaki. Dengan gejala yang dialami pasien tentu saja bisa menghambat kegiatan sehari-harinya,
baik dalam fungsinya sebagai seorang istri, seorang guru, dan dalam hal beribadah kepada Allah SWT
yang pasti berpengaruh secara sosial dan psikologis. Karena alasan-alasan itulah saya mengambil kasus
ini untuk refleksi kasus.. Pasien yang dipilih adalah pasien yang selama dirawat di bangsal tersebut diikuti
perkembangannya dari awal masuk sampai dipulangkan dari rumah sakit, sehingga pengamatan terhadap
pasien tersebut dapat diikuti secara menyeluruh untuk refleksi kasus, yaitu pengamatan dari segi non klinis
seperti segi sosial ekonomi , dan refleksi dari segi keislaman.
Pasien yang dipilih adalah Ny. Dy, usia 68 tahun, dirawat dengan stroke non hemoragik, pasien
masuk tanggal 11 September 2012, dirawat selama 12 hari di Rumah Sakit, pada hari ke-12 yakni tanggal
22 September 2012, pasien pulang dengan keadaan membaik dan boleh pulang. Pasien masuk rumah sakit
dengan keluhan kelemahan kedua tangan setalah muntah-muntah, disertai keluhan mual dan pusing. Pada
saat dibawa ke rumah sakit pasien dalam keadaan sadar, pasien tidak pernah pingsan atau kejang. Pasien
didiagnosis stroke non hemoragik, dari hasil CT Scan tampak daerah iskemik multipel di beberapa lokasi.
Kondisi pasien selama perawatan di rumah sakit stabil dan semakin membaik dan akhirnya boleh pulang.
Alasan ketertarikan pemilihan kasus ini adalah pemulihan kondisi pasien pasca stroke sehingga pasien
dapat menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri sangatlah diperlukan. Ny Dy yang pulang dengan
kondisi membaik diharapkan tetap melakukan latihan di rumah dan menjalani kontrol rutin pasca stroke serta
fisioterapi agar mendapatkan hasil pemulihan yang terbaik untuk menunjang kualitas hidup pasien yang
dipandang dari segi etika/moral dan keislaman.
3. Refleksi dari aspek etika/moral
Stroke merupakan problem penyakit saraf yang dapat menyebabkan kematian, stroke ulang dan
kecacatan. Dampak stroke merupakan potensi besar terhadap produktifitas karena Banyak penderita yang
menjadi cacat, menjadi invalid, tidak mampu lagi mencari nafkah seperti sediakala, menjadi tergantung
pada orang lain, dan tidak jarang yang menjadi beban keluarganya, stroke bukan saja menimbulkan
permasalahan dari segi kesehatan tetapi juga ekonomi dan sosial sehingga membutuhkan penanganan
yang komprehensif. Upaya perawatan pasien pasca Stroke Non Hemoragik menjadi masalah yang sangat
komplek karena untuk pemulihan memerlukan waktu dan pengelolaan yang tepat sehingga dapat
memberikan hasil terapi yang baik seperti pada Ny. Dy. Aspek-aspek perawatan untuk memandirikan
Page 2

pasien seperti latihan lingkup gerak sendi, fisioterapi, dan kontrol pasca stroke diperlukan lebih lanjut
mengingat terdapat pengaruh terhadap peningkatan kualitas kemandirian pasien pasca Stroke. Proses
pemulihan atau penyembuhan yang sempurna atau mendekati sempurna terjadi apabila stroke mendapat
penanganan atau perawatan dimulai sejak masuk rumah sakit sampai pulang, namun salah satu faktor
yang mendukung proses pemulihan ini tergantung dari ketaatan pasien dalam menjalani proses pemulihan,
ketekunan, dan semangat penderita untuk sembuh. Pada kasus ini, dimana pasien dapat pulang dengan
keadaan membaik dan diperlukannya latihan gerak lingkup sendi , fisioterapi, dan kontrol pasca stroke
diperlukan untuk menujang maksimalnya penyembuhan pada pasien saat sudah pulang ke rumah, bila
ditinjau dari aspek etika/moral yakni meliputi 4 prinsip dasar yaitu beneficence (asas berbuat baik,
melindungi hak pasien, memaksimalkan akibat baik dari upaya pengobatan pasien), non maleficence
(prinsip moral dokter dilarang melakukan tindakan buruk yang membuat derita atau mencelakakan pasien),
dan dalam menjalankan prinsip tersebut keinginan pasien tetap diperhatikan sesuai prinsip justice (prinsip
moral yang tujuanya menjamin nilai manusia sebagai makhluk berakal budi), dan otonom yaitu prinsip
moral untuk menghargai hak pasien untuk mengambil keputusan.
- Beneficence
Prinsip berbuat baik (Beneficence) Beneficence berarti melakukan yang baik. Perawat memiliki kewajiban
untuk melakukan dengan baik, yaitu, mengimplementasikan tindakan yang menguntungkan pasien. Latihan
gerak lingkup sendi dan fisioterapi dalam kaus ini bermanfaat untuk kemandirian pasien dengan perbaikan
aktifitas kehidupan sehari-hari pada pasien pasca stroke non hemoragi, dimana latihan latihan seperti ini
sangat diperlukan untuk melatih tubuh supaya tidak kaku pasca bedrest yang lama. Latihan yang dilakukan
di rumah sebaiknya sesuai apa yang telah dilatihkan kepada pasien saat masih opname di rumah sakit
oleh perawat fisioterapi dan tetap kontrol rutin pasca stroke serta mendapatkan fisioterapi.
- Non maleficience
NonMaleficence berarti tugas yang dilakukan perawat tidak mengandung unsur yang membahayakan,
merugikan, rasa cemas, rasa takut. Prinsip nonmaleficence menekankan untuk tidak melakukan tindakan
yang menimbulkan bahaya bagi responden. Latihan gerak lingkup sendi yang dapat dilakukan di rumah,
dalam kasus ini bermanfaat untuk kemandirian pasien dengan perbaikan aktifitas kehidupan sehari-hari
pada pasien pasca stroke non hemoragi dalam pelaksanaaan hendaknya dapat mencegah bahaya yang
bisa disebabkan karena latihan yang dilakukan seperti pasien terjatuh atau memaksakan latihan yang tidak
sesuai dengan kondisi pasien sehingga akan memperberat kondisi pasien.
- Justice
Justice atau keadilan adalah suatu kewajiban untuk bersikap adil dalam distribusi beban dan keuntungan
bagi pasien, dalam hal ini hendaknya pasien dijelaskan bahwa diperlukan recovery untuk saraf motorik
agar merangsang saraf tetap bagus fungsinya supaya pasien termotivasi untuk melakukan latihan di
rumah. bahwa terapi latihan berpengaruh dalam meningkatkan kemampuan fungsional penderita stroke
khususnya jika dilakukan secara intensif dalam 6 bulan pertama yakni Motor Recovery instroke.
Penderita stroke yang diberikan terapi latihan secara intensif dalam 6 bulan pertama akan menyebabkan
Page 3

perbaikan kemampuan motorik penderita stoke semakin baik apalagi bila dilakukan makin sering atau
intensitas waktu latihan diberikan semakin banyak, hal menunjukkan bahwa aktivasi jaringan saraf
bersifat usedependent, semakin sering digunakan, semakin kuat dan semakin meningkatkan jumlah
sinaps yang terbentuk. Disamping itu pemulihan fungsi neurologis setelah stroke terjadi dalam 3-6 bulan
pertama melalui mekanisme natural dengan cara resolusi edema local, re sopsi toksin-toksin local,
pemulihan sirkulasi local dan pemulihan neuron yang mengalami iskemia. Oleh karena itu, maka
memberikan latihan lingkup gerak sendi dan fisioterpai sangat perlu diberikan terutama dalam 6 bulan
pertama untuk memaksimalkan perbaikan kemampuan motorik sehingga dengan kemmapuan motorik
yang meningkat akan menyebabkan pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
- otonom
Dalam hal ini keputusan pasien untuk melakukan latihan dan fisioterapi pasca stroke sepenuhnya ada di
tangan pasien, yang dapat dilakukan oleh tenaga medis hanyalah memberikan wacana tentang
pentingnya latihan dan fisioterapi pasca stroke agar pasien dapat pulih dengan baik sehingga dpat
mempengaruhi dan memotivasi pasien dan pasien mau kontrol pasca stroke, melakukan latihan di rumah
dan melakukan fisioterapi.
4. Refleksi ke-Islaman beserta penjelasan evidence / referensi yang sesuai
Dalam keadaan sehat maupun sakit, sebagai umat muslim diwajibkan untuk tetap beribadah
kepada Allah SWT, terutama peribadahan yang wajib seperti shalat 5 waktu. Seperti pada pasien post
stroke yang mengalami kelemahan anggota gerak sehingga mengalami keterbatasan dalam melaksanakan
ibadah, maka walaupun dalam keadaan sakit, jika sadar dan mampu sebaiknya pasien tetap
melaksanakan kewajiban beribadah, demikian pula pihak keluarga hendaknya mendukung pasien untuk
tetap mendekatkan diri kepada Allah SWT. Selain itu, dalam Islam sebelum melakukan ibadah shalat
diperlukan tata cara bersuci terlebih dahulu (thaharah) namun jika keadaan tidak memungkinkan maka
dapat diganti dengan tayamum. Karena Allah SWT selalu memudahkan umatNya dalam menjalankan
syariat sesuai kemampuan umatNya. Seperti firman Allah dalam Q.S Al-Baqarah : 286, yang artinya :
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dan dalam Q.S AtTaghabun : 16 , yang artinya : Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu. Dengan
adanya dasar yang kuat mengenai kemudahan dalam beribadah sesuai kondisi seseorang maka jika
memang dengan terpaksa pasien stroke tidak dapat mengambil wudhu karena mengalami kelemahan
anggota gerak dan ditakutkan tejadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka hal ini diperbolehkan.
Dalam melaksanakan shalat yang biasanya dilakukan dengan berdiri, dalam Islam juga telah
dimudahkan dengan duduk atau berbaring sesuai kondisi manusia tersebut, seperti misalnya pasien stroke
yang mengalami kelemahan anggota gerak sehingga tidak mampu berdiri atau duduk, dapat shalat dengan
berbaring, Rasulullah SAW bersabda, Shalatlah dengan berdiri, apabila tidak mampu, maka duduklah dan
bila tidak mampu juga maka berbaringlah (HR. Bukhari).
Penting untuk diedukasikan kepada pasien dan keluarga bahwa sakit adalah cobaan dari Allah dan
Page 4

hanya Allah yang akan memberikan kesembuhan atau memutuskan jalan yang terbaik dari penyakit
tersebut. Sehingga dalam menghadapi ujian ini manusia hendaknya selalu sabar dan ikhlas, meminta
pertolongan dari Allah, sehingga tidak marah terhadap takdir yang menimpanya dan tidak terputus dari
rahmatNya. Karena sesungguhnya melalui ujian itulah jalan seseorang menuju surga seperti dalam Q.S AlBaqarah 214, yang artinya, Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang
kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?. Sakit juga dapat
menghapus dosa-dosa kecil seperti diriwayatkan dalam hadits berikut, Tidaklah orang Muslim ditimpa
cobaan berupa penyakit atau lainnya, melainkan Allah menggugurkan keburukannya, sebagaimana pohon
yang menggugurkan daunnya.(HR. Bukhari-Muslim), dan dalam hadits berikut ini, Tidaklah seorang
muslim tertimpa keletihan, sakit, kebingungan, kesedihan hidup, atau bahkan tertusuk duri, kecuali Allah
menghapus dosa-dosanya. (HR. Muttafaq Alaih). Jadi sudah sepantasnya sebagai umat muslim untuk
senantiasa bersyukur dalam keadaan apapun sehingga tidak terputus dari rahmatNya.
Selain itu, setelah pasca stroke dimana pasien belum pulih seutuhnya, hendaknya pasien tetap
bersabar dan selalu berusaha untuk dapat pulih sebaik mungkin. Di antara bukti kesempurnaan Islam,
Rasulullah SAW menuntunkan adab-adab yang baik ketika seorang hamba tertimpa cobaan berupa sakit.
Sehingga, dalam keadaan sakit sekalipun, seorang muslim masih bisa mewujudkan penghambaan diri
kepada Allah , yakni sabar dan ridha atas ketentuan Allah, serta berbaik sangka kepada-Nya.
Dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan z, Rasulullah n bersabda:


Sungguh menakjubkan urusan orang yang beriman. Sesungguhnya semua urusannya baik baginya, dan
sikap ini tidak dimiliki kecuali oleh orang yang mukmin. Apabila kelapangan hidup dia dapatkan, dia
bersyukur, maka hal itu kebaikan baginya. Apabila kesempitan hidup menimpanya, dia bersabar, maka hal
itu juga baik baginya. (HR. Muslim)

Umpan balik dari pembimbing

.,...
TTD Dokter Pembimbing

TTD Dokter Muda

-----------------------------------

--------------------------------

Page 5