Anda di halaman 1dari 14

Tafsir

Surat An-Nisa ayat 9 & 95


Surat At-Tahrim ayat 6
Surat At-Thagobun ayat 14 & 15
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu : Drs Muhammad Zaini M.Pd.I
Disusun oleh :

Ulfatus Sa’adah (181260039)


Latif Khumaini (181260054)

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM MA’ARIF NU (IAIM NU)

METRO lAMPUNG

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya ucapkan kepada Allah SWT. Atas rahmat dan hidayah-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “pembinaan akhlaq
pada generasi muda” ini tepat pada waktunya.

Tak lupa juga sholawat serta salamnya ALLAH semoga tercurah kepada
junjungan kita Nabi agung Muhammad SAW, yang telah membawa kita dari zaman
jahiliyah menuju zaman yang terang benderang, yakni agama islam.

Sebagai rasa terima kasih atas bantuan dan bimbingan serta dorongan dari
semua pihak, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

Bapak Dr.Mispani.M.Pd.I selaku Rektor IAIM NU Metro.

Bapak Drs.Muhammad Zaini.M.Pd.I selaku Dosen pembimbing mata kuliah Tafsir


Tarbawi.

Semua pihak yang telah membantu terselesaikannya makalah ini.

Semoga makalah ini bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi pembaca pada
umumnya. Aamiin.

Metro, 07 April 2020


Penulis

2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kehidupan beragama salah satu diantara sekian banyak sektor harus
mendapatkan perhatian besar bagi bangsa dibandingkan dengan sektor
kehidupan yang lain. Sebab pencapaian pembangunan bangsa yang bermoral
dan beradab sangat ditentukan dari aspek kehidupan agama, terutama dalam
hal pembinaan bagi generasi muda.

Generasi muda adalah istilah yang mengacu kepada tahapan masa


kehidupan seseorang yang berada diantara usia remaja dan tua. Ia sudah
meninggalkan masa remajanya, namun belum memasuki masa tua. Generasi
adalah mereka yang sudah berusia di atas 20 tahun, dan di bawah 40 tahun.

Secara harfiah pembinaan berarti pemeliharaan secara dinamis dan


berkesinambungan. Di dalam konteksnya dengan suatu kehidupan beragama,
maka pengertian pembinaan adalah segala usaha yang dilakukan untuk
menumbuhkan kesadaran memelihara secara terus menerus terhadap tatanan
nilai agama agar segala perilaku kehidupannya senantiasa di atas norma-
norma yang ada  dalam tatanan itu. namun perlu dipahami bahwa pembinaan
tidak hanya berkisar pada usaha untuk mengurangi serendah-rendahnya
tindakan-tindakan negatif yang dilahirkan dari suatu lingkungan yang
bermasalah, melainkan pembinaan harus merupakan terapi bagi masyarakat
untuk mengurangi perilaku buruk dan tidak baik dan juga sekaligus bisa
mengambil manfaat dari potensi masyarakat, khususnya generasi muda. Oleh
karena itu, makalah ini mencoba menjelaskan pembinaan akhlak pada
generasi muda.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Generasi Muda dan Pengertian Akhlak?
2. Bagaimana Konsep Pembinaan Akhlak Pada Generasi Muda?
3. Bagaimanakah Asbabun Nuzul Surat An-Nisa Ayat 9 & 95?
4. Bagaimanakah Asbabun Nuzul Surat At-Tahrim Ayat 6?
5. Bagaimanakah Asbabun Nuzul Surat At-Tagabun Ayat 14-15?

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Generasi Muda dan Pengertian Akhlak

Melihat kata "Generasi muda" yang terdiri dari dua kata yang
majemuk, kata yang kedua adalah sifat atau keadaan kelompok individu itu
masih berusia muda dalam kelompok usia muda yang diwarisi cita-cita dan
dibebani hak dan kewajiban, sejak dini telah diwarnai oleh kegiatan-kegiatan
kemasyarakatan dan kegiatan politik. Maka dalam keadaan seperti ini
generasi muda dari suatu bangsa merupakan "Young Citizen".

Pengertian generasi muda erat hubungannya dengan arti generasi


muda sebagai generasi penerus. Yang dimaksud "Generasi Muda" secara
pasti tidak terdapat satu definisi yang dianggap paling tepat akan tetapi
banyak pandangan yang mengartikannya tergantung dari sudut mana
masyarakat melihatnya. Namun dalam rangka untuk pelaksanaan suatu
program pembinaan bahwa "Generasi Muda" ialah bagian suatu generasi
yang berusia 0 – 30 tahun.

Kata akhlak berasal dari bahasa Arab al-akhlaq yang merupakan


bentuk jamak dari kata al-khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah
laku, atau tabiat. Secara terminologis, Ibnu Maskawaih
mendefinisikan akhlak sebagai keadaan gerak jiwa yang mendorong ke arah
melakukan perbuatan dengan tidak menghajatkan pikiran. Sedang menurut
al-Ghazali akhlak adalah suatu sifat yang tetap pada jiwa yang
memungkinkan seseorang melakukan perbuatan-perbuatan dengan mudah
dan seketika.
B. Konsep Pembinaan Akhlak Pada Generasi Muda

Membangun kesadaran bagi generasi bukanlah hal yang gampang


untuk tercapai secara maksimal, tetapi dalam pembinaan kesadaran yang
menjadi hal pokok untuk dibangun. Kesadaran hendaknya disertai niat untuk
mengintensifkan pemilikan nilai-nilai dari pada yang sudah dimiliki, sebab

4
dengan cara tersebut akan mampu mewujudkan pemeliharaan yang dinamis
dan berkesinambungan.1

Dalam hal ini pembinaan dimaksudkan adalah pembinaan keagamaan


(akhlak) yang mempunyai sasaran pada generasi muda, maka tentu aspek
yang ingin dicapai dalam hal ini adalah sasaran kejiwaan setiap individu,
sehingga boleh dikatakan bahwa pencapaiannya adalah memiliki ciri khas
dan keunikan tersendiri. Keunikan dimaksudkan tidak karena ditentukan
prototipitas tema pembahasannya, melainkan disebabkan karena sasaran
yang diambil merupakan suatu pengelompokkan demografis yang gencar-
gencarnya mengalami perubahan dan perkembangan psikologi kejiwaan
anak.

Dalam masa ini jati diri dan sikap arogan masih sangat kuat untuk
diperpegangi bagi generasi muda, sehingga memerlukan kehati-hatian yang
ekstra ketat. Sehingga mampu menanamkan nilai-nilai dan konsep
pembinaan, khususnya dalam hal pembinaan akhlak melalui ajaran tasawuf
dalam merubah perilaku generasi muda dalam kehidupan sehari-hari.

Pembinaan yang bercorak keagamaan atau keislaman akan selalu


bertumpu pada dua aspek, yaitu aspek spiritualnya dan aspek materialnya.
Aspek spiritual ditekankan pada pembentukan kondisi batiniah yang mampu
mewujudkan suatu ketentraman dan kedamaian di  dalamnya.

 Dan dari sinilah memunculkan kesadaran untuk mencari nilai-nilai


yang mulia dan bermartabat yang harus dimilikinya sebagai bekal hidup dan
harus mampu dilakukan dan dikembangkan dalam kehidupan sehari-harinya
saat ini untuk menyongsong kehidupan kelak, kesadaran diri dari seorang
remaja sangat  dibutuhkan untuk mampu menangkap dan menerima nilai-
nilai spiritual tersebut, tanpa adanya paksaan dan intervensi dari luar dirinya.

Sedangkan pada pencapaian aspek materialnya ditekankan pada


kegiatan kongkrit yaitu berupa pengarah diri melalui  kegiatan yang

1
Abdul Mujib, Nuansa-nuansa Psikologi Islam (Cet, IV, Jakarta: PT. Bulan Bintang,
1995),hlm.12.

5
bermanfaat, seperti organisasi, olahraga, sanggar seni dan lain-lainnya.
Kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dimaksudkan agar mampu berjiwa besar
dalam membangun diri dari dalam batinnya, sehingga dengan kegiatan
tersebut, maka tentu dia akan mampu memiliki semangat dan kepekatan
yang tinggi dalam kehidupannya.

Penanaman semangat kepahlawanan memberikan nilai positif bagi


generasi muda, sebab  tentu akan membangun semangat dan menumbuhkan
jiwa  kepahlawanan, baik terhadap negara, agama maupun bangsa.2

C. Asbabun Nuzul Surat An-Nisa ayat 9  & 95

‫ين لَ ْو َت َر ُك وا ِم ْن َخ ْل ِف ِه ْم ذُ ِّر يَّ ةً ِض َع افً ا َخ افُ وا َع لَ ْي ِه ْم‬ ِ َّ ‫و لْ ي خ‬


َ ‫ش ال ذ‬
َ َْ َ

ً ‫َف ْل يَ َّت ُق وا اللَّ هَ َو لْ َي ُق ولُ وا َق ْو اًل َس ِد‬


‫يد ا‬

Artinya : dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya


meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka
khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka
bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang
benar.(Q. S An-Nisa: 9)

Allah memperingatkan kepada orang-orang yang telah mendekati


akhir hayatnya supaya jangan meninggalkan anak-anak atau keluarga yang
lemah terutama tentang kesejahteraan hidup mereka di kemudian hari. Untuk
itu selalulah bertakwa dan mendekatkan diri kepada Allah. Selalulah berkata
lemah lembut terutama kepada anak yatim yang menjadi tanggung jawab
mereka. Perlakukanlah mereka seperti memperlakukan anak kandung
sendiri.

Maksudnya, anak-anak yang masih kecil-kecil (mereka khawatir


terhadap nasib mereka) akan terlantar (maka hendaklah mereka bertakwa
kepada Allah) mengenai urusan anak-anak yatim itu dan hendaklah mereka

2
Ahmadi, Idiologi Pendidikan Islam (Cet. I; Jakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm. 160.

6
lakukan terhadap anak-anak yatim itu apa yang mereka ingini dilakukan
orang terhadap anak-anak mereka sepeninggal mereka nanti.

Dan ajarkan kepada mereka perkataan yang benar kepada orang yang
hendak meninggal misalnya menyuruhnya bersedekah kurang dari sepertiga
dan memberikan selebihnya untuk para ahli waris hingga tidak membiarkan
mereka dalam keadaan sengsara dan menderita.3

Surat An-nisa ayat 95

‫ون‬ ِ ‫الض ر ِر و الْ م ج‬


َ ‫اه ُد‬ ‫ني َغ ْي ُر أُو يِل‬ ِِ ِ َ ‫اع ُد‬
ِ ‫اَل ي س تَ ِو ي الْ َق‬
َ ُ َ َ َّ َ ‫ون م َن الْ ُم ْؤ م ن‬ َْ
‫ين بِ أ َْم َو ا هِلِ ْم‬ ِِ َّ َ‫ ف‬Hۚ ‫يل اللَّ ِه بِ أ َْم َو ا هِلِ ْم َو أَ ْن ُف ِس ِه ْم‬
َ ‫ض َل اللَّ هُ الْ ُم َج اه د‬ ِ ِ‫يِف َس ب‬

َّ َ‫ َو ف‬Hۚ ٰ ‫ َو ُك اًّل َو َع َد اللَّ هُ ا حْلُ ْس ىَن‬Hۚ ً‫ين َد َر َج ة‬ ِِ ِ ِ


َ‫ض ل‬ َ ‫َو أَ ْن ُف س ه ْم َع لَ ى الْ َق اع د‬
ِ ِِ ِِ
‫يم ا‬
ً ‫َج ًر ا َع ظ‬
ْ ‫ين أ‬ َ ‫اللَّ هُ الْ ُم َج اه د‬
َ ‫ين َع لَ ى الْ َق اع د‬

Artinya : Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut
berperang) yang tidak mempunyai 'uzur dengan orang-orang yang berjihad di
jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang
yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu
derajat maksunya yang tidak berperang karena uzur. Kepada masing-masing
mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan
orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar
maksunya yang tidak berperang tanpa alasan.(Q. S An-Nisa: 95)

Diriwayatkan, bahwa ayat ini diturunkan berhubungan dengan


beberapa orang yang tidak mau turut berperang bersama Rasulullah saw pada
peperangan Badar. Mereka itu adalah Ka'ab Ibnu Malik dari Bani Salamah,
Mararah Ibnur Rabi' dari Bani `Amr bin 'Auf, dan Ar Rabi serta Hilal ibnu
Umayyah dari Bani Waqif. Sudah jelas, bahwa orang-orang mukmin yang
berjuang untuk membela agama Allah dengan penuh keimanan dan
Imam Jalaludin Al-Mahali dan Imam Jalaludin As-Syuyuti, Tafsir Jalalain, (Bandung:
3

SinarBaru Algesindo, 2005).

7
keikhlasan tidaklah sama derajatnya dengan orang-orang yang enggan
berbuat demikian.

Apabila orang-orang yang tidak berjihad itu menyadari kerugian


mereka dalam hal ini, maka mereka akan tergugah hatinya dan berusaha
untuk mencapai derajat yang tinggi itu, dengan turut serta berjihad bersama-
sama kaum mukminin lainnya. Untuk itulah ayat ini mengemukakan
perbedaan antara kedua golongan itu. Dengan demikian maksud yang
terkandung dalam ayat ini sama dengan maksud yang dikandung dalam
firman Allah pada ayat lain yang menerangkan perbedaan derajat antara
orang-orang mukmin yang berilmu pengetahuan dun orang- orang yang tidak
berilmu.

D. Asbabun Nuzul Surat At-Tahrim Ayat 6

‫اس‬
ُ َّ‫ود َه ا الن‬ ُ ِ‫َه ل‬
ُ ُ‫يك ْم نَ ًار ا َو ق‬ ْ ‫آم نُ وا قُ وا أَ ْن ُف َس ُك ْم َو أ‬
َ ‫ين‬
ِ َّ
َ ‫يَ ا أَيُّ َه ا ال ذ‬
‫ون اللَّ هَ َم ا أ ََم َر ُه ْم‬
َ ‫ص‬ ِ ِ ِ ِ
ُ ‫َو ا حْل َج َار ةُ َع لَ ْي َه ا َم اَل ئ َك ةٌ غ اَل ٌظ ش َد ٌاد اَل َي ْع‬
‫ون‬
َ ‫ون َم ا يُ ْؤ َم ُر‬
َ ُ‫َو َي ْف َع ل‬

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu


dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya
malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap
apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa
yang diperintahkan.(Q. S. At-Tahrim: 6)

Asbabun Nuzulnya

Ibnu katsir setelah menulis ayat At-Tahrim beliau juga menukil


pendapat yang mengatakan bahwa sebab turunnya ayat tersebut adalah Nabi
mengharamkan atas dirinya Maria Al-Qibtiah4, Kemudian Syaikh Utsmani

4
Al-Imam Abul Fida Ismail Ibnu Katsir Ad-Dimasyqy, Tafsir Ibnu Katsir, (Bandung:
Sinar Baru Algesindo, 2004) juz.8 hal.158

8
menguatkan pendapat yang mengatakan sebab turunnya ayat ini adalah Nabi
Muhammad SAW mengharamkan atas dirinya madu.5

Mengenai firman Allah subhanahu wa ta’ala,  “Peliharalah dirimu dan


keluargamu dari api Neraka”, Mujahid (Sufyan As-Sauri mengatakan,
“Apabila datang kepadamu suatu tafsiran dari Mujahid, hal itu sudah cukup
bagimu”) mengatakan : “Bertaqwalah kepada Allah dan berpesanlah kepada
keluarga kalian untuk bertaqwa kepada Allah”. Sedangkan Qatadah
mengemukakan : “Yakni, hendaklah engkau menyuruh mereka berbuat taat
kepada Allah dan mencegah mereka durhaka kepada-Nya. Dan hendaklah
engkau menjalankan perintah Allah kepada mereka dan perintahkan mereka
untuk menjalankannya, serta membantu mereka dalam menjalankannya. Jika
engkau melihat mereka berbuat maksiat kepada Allah, peringatkan dan
cegahlah mereka.”

Demikian itu pula yang dikemukakan oleh Adh Dhahhak dan Muqatil
bin Hayyan, dimana mereka mengatakan : “Setiap muslim berkewajiban
mengajari keluarganya, termasuk kerabat dan budaknya, berbagai hal
berkenaan dengan hal-hal yang diwajibkan Allah Ta’ala kepada mereka dan
apa yang dilarang-Nya.”

Dalam ayat ini firman Allah ditujukan kepada orang-orang yang


percaya kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, yaitu memerintahkan supaya
mereka, menjaga dirinya dari api neraka yang bahan bakarnya terdiri dari
manusia dan batu, dengan taat dan patuh melaksanakan perintah Allah, dan
mengajarkan kepada keluarganya supaya taat dan patuh kepada perintah
Allah untuk menyelamatkan mereka dari api neraka.

Di antara cara menyelamatkan diri dari api neraka itu ialah


mendirikan salat dan bersabar, sebagaimana firman Allah SWT. Dan
perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu
mengerjakannya (Q.S Taha: 132). dan dijelaskan pula dengan firman-Nya:

5
Syaikh Utsaimin, Asy-Syarh Al-Mumti’ ala Zad Al Mustaqni’ . juz.13 hal.217.

9
Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat. (Q.S Asy
Syu’ara’: 214).

E. Asbabun Nuzul Surat At-Taghobun Ayat 14-15

ِ ‫ي ا أَيُّ ه ا الَّ ِذ ين آم ن وا إِ َّن ِم ن أ َْز و‬


‫اج ُك ْم َو أ َْو اَل ِد ُك ْم َع ُد ًّو ا لَ ُك ْم‬ َ ْ َُ َ َ َ
ِ ِ
ٌ ‫ص َف ُح وا َو َت ْغ ف ُر وا فَ إ َّن اللَّ هَ َغ ُف‬
‫ور‬ ْ َ‫ َو إِ ْن َت ْع ُف وا َو ت‬Hۚ ‫وه ْم‬
ُ ‫اح َذ ُر‬
ْ َ‫ف‬
)14 ( ‫يم‬ ‫ح‬ِ‫ر‬
ٌ َ
ِ ِ ِ
)15 ( ‫يم‬ ْ ‫ َو اللَّ هُ ع ْن َد هُ أ‬Hۚ ٌ‫إِ مَّنَ ا أ َْم َو الُ ُك ْم َو أ َْو اَل ُد ُك ْم ف ْت نَ ة‬
ٌ ‫َج ٌر َع ظ‬
14. Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-
anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu
terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta
mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.

15. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan


di sisi Allah-lah pahala yang besar.(Q. S At-Tagabun: 14-15)

Asbabun Nuzulnya 

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ayat :

ِ ِ ِ ِ َّ
......‫وه ْم‬ ْ َ‫ين َآمنُ وا إِ َّن م ْن أ َْز َواج ُك ْم َوأ َْوالد ُك ْم َع ُد ًّوا لَ ُك ْم ف‬
ُ ‫اح َذ ُر‬ َ ‫يَ ا أَيُّ َه ا الذ‬

turun berkenaan dengan beberapa orang penduduk mekah yang masuk


islam, akan tetapi istri dan ank-anaknya menolak hijrah ataupun ditinggal
hijrah ke Madinah. Lama kelamaan mereka pun hijrah juga. Sesampainya di
Madinah, mereka melihat kawan-kawannya telah banyak mendapat
pelajaran dari nabi Saw. Karenanya mereka bermaksud menyiksa istri  dan

10
anak-anaknya yang menjadi penghalang unutk berhijrah.6 Maka turunlah
: ayat selanjutnya

.‫يم‬ ِ ‫وإِ ْن َتع ُفوا وتَص َفحوا وَت ْغ ِفروا فَِإ َّن اللَّه َغ ُف‬....
ٌ ‫ور َرح‬
ٌ َ ُ َ ُ ْ َ ْ َ

Dalam riwayat lain, ayat di atas turun berkenaan dengan ‘Auf bin
Malik Al-Asyja’i yang mempunyai anak istri yang selalu menangisinya
apabila akan pergi berperang , bahkan menghalanginya dengan berkata :
“Kepada siapa engkau akan menitipkan kami?” ia pun merasa kasihan
kepada mereka hingga tidak jadi berangkat perang.7

Ayat di atas berbicara tentang kehidupan suatu keluarga, di mana pada


keluarga tersebut kadang-kadang ada istri yang menjadi musuh bagi keluarga
tersebut dan bahkan dari anak-anak mereka pun kadang kala ada yang
menjadi musuh baginya. Benar-benar disengaja atau tidak kadang-kadang
ada dari mereka yang menjadi musuh, sekurang-kurangnya menjadi musuh
yang akan menghambat cita-cita. Sebab itu di suruhlah orang yang beriman
berhati-hati terhadap istri dan anak-anaknya, jangan sampai mereka itu
mepengaruhi iman dan keyakinan.

Tetapi jangan langsung mengambil sikap keras terhadap mereka.


Bimbinglah mereka baik-baik. “: dan jika kamu memaafkan dan tidak
memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Alllah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. (ujung ayat 14).

Di pangkal ayat diterangkan dengan memakai min (‫ )من‬, yang berarti


“daripada”, artinya setengah daripada, tegasnya bukanlah semua istri atau
semua anak menjadi musuh hanya kadang-kadang atau pernah ada. Hasil
dari sikap mereka telah merupakan suatu musuh yang cita-cita seorang
mu’min  sebagai suami atau sebagai ayah.8
6
K.H.Q. Shaleh Dan H.A.A. Dahlan, Asbabun Nuzul, Cet. 10, Edisi Ii,  Tahun 2004, 
Hal.
579.
7
Asbabun Nuzul, Hal. 580
8
Prof  Hamka, Tafsir Al-Azhar, , Cet Pertama, Juz 28, 29, 30, Tahun 1985, Hal. 246

11
Kata ‫ًًّوا‬HU ‫ ُد‬H‫ َع‬berarti ‫ير‬HH‫غلونكم عن الخ‬HH‫ادونكم و يش‬HH‫ يع‬ yaitu memalingkan dan
menyibukkan kita sehingga jauh dari kebaikan.9 Sebagian pasangan dan anak
merupakan musuh dapat dipahami dalam arti musuh yang sebenarnya, yang
menaruh kebencian dan ingin memisahkan diri dari ikatan perkawinan. Ini
bisa saja terjadi kapan dan di mana pun. Dan bisa juga permusuhan
dimaksud dalam pengertian majazi, yakni bagaikan musuh. Ini karena
dampak dari tuntunan dari mereka yang menjerumuskan pasangannya dalam
kesulitan bahkan bahaya, layaknya perlakuan musuh terhadap musuhnya.10

Secara korelatif tentang fitnah harta dan anak dalam surah At-
Taghabun, Imam Ar-Razi dalam At-Tafsir Al-Kabir menyebutkan, karena
anak dan harta merupakan fitnah, maka Allah memerintahkan kita agar
senantiasa bertaqwa dan taat kepada Allah setelah menyebutkan hakikat
fitnah keduanya, ”Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut
kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang
baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya,
maka mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (At-Taghabun: 16).

Apalagi pada ayat sebelumnya, Allah menegaskan akan kemungkinan


sebagian keluarga berbalik menjadi musuh bagi seseorang, ”Hai orang-orang
mukmin, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang
menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika
kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (At-Taghabun:
14) 

   

9
Fathul Qadir, M. Ibn Ali Asy-Syauqani , Juz 7, Hal. 237
10
Quraish Shihab,Tafsir Al Misbah, Cet I, Jilid, 14 , Tahun 2003, Lentera Hati, Hal. 279

12
BAB III

PENUTUPAN

A. Kesimpulan

Suatu pembinaan adalah untuk konstruksi pembinaan itu sendiri yang


utuh dan hakiki, sehingga dalam pembinaan harus mengambil suatu bentuk
bagaimana seharusnya konstruksi itu dibangun dari dalam diri, sehingga
mampu menghasilkan tindakan-tindakan islami yang praktis dalam
melakukan kegiatan, baik di sekolah maupun di luar lingkungan sekolah.

Penciptaan moralitas Islam ini  adalah merupakan suatu hal yang amat
penting untuk memantapkan kehidupan keberagaman mereka, mereka akan
menjadi mantap apabila sudah mengetahui secara benar nilai-nilai Islami,
termasuk di dalamnya nilai-nilai kesufian yang tidak jauh berbeda dengan
nilai-nilai yang sudah di pahami sebelumnya. Demikian pula dengan
manfaat-manfaat dari kegiatan-kegiatan yang dilakukannya. Bahkan secara
tidak langsung mereka akan memahami fungsi-fungsi keagamaan yang
mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Pembentukan moralitas Islam pada setiap generasi muda Islam, harus


ditempatkan pada nomor urut teratas dan menjadi skala prioritas suatu
pembinaan. Hal ini didasarkan pada suatu asumsi bahwa di tangan
pemudalah tanggung jawab perwujudan realitas Islam. yang dimaksud
realitas Islam adalah kegiatan-kegiatan yang mesti dan seharusnya dilakukan
generasi secara konstruktif dan berkesinambungan dalam membangun jati
diri dan  perilaku yang baik.

13
DAFTAR PUSTAKA

Mujib Abdul, Nuansa-nuansa Psikologi Islam. Cet. I: Jakarta: PT Raja Grafindo


Persada, 2001.

Ahmadi, Idiologi Pendidikan Islam Cet. I; Jakarta: Pustaka Pelajar, 2005.

Imam Jalaludin Al-Mahali dan Imam Jalaludin As-Syuyuti, Tafsir Jalalain.


Bandung:
SinarBaru Algesindo, 2005.

Al-Imam Abul Fida Ismail Ibnu Katsir Ad-Dimasyqy, Tafsir Ibnu Katsir. Bandung:
Sinar Baru Algesindo, 2004.

K.H.Q. Shaleh Dan H.A.A. Dahlan, Asbabun Nuzul, Cet. 10, Edisi Ii,  Tahun 2004.

Prof  Hamka, Tafsir Al-Azhar, , Cet Pertama, Juz 28, 29, 30, Tahun 1985.

Fathul Qadir, M. Ibn Ali Asy-Syauqani , Juz 7.

Shihab, Quraish. Tafsir Al Misbah. Cet I, Jilid, 14 , Tahun 2003, Lentera Hati, Hal.
279

14